Jumlah Pengunjung Saat Ini

Rabu, 06 Januari 2010

Tribun Pekanbaru Pameran Foto Yatna

Yatna Pajang 147 Karya Tunggal
Jumat, 1 Januari 2010 | 08:32 WIB
Laporan Ihsanul Hadi

Bagi sebagian orang foto pertunjukan seni mungkin tak mempunyai makna sehingga diabaikan begitu saja. Tapi bagi Yatna Yuana Sumardi, foto-foto yang dijepret dari pertunjukan seni, seperti teater, tari dan musik merupakan sesuatu yang bernilai tinggi.

Foto yang dikumpulkan Yatna dapat dilihat pada pameran tunggal foto yang bertajuk 'Membingkai Gerak dalam Gambar' di Gedung Olah Seni Taman Budaya Provinsi Riau. Pameran yang mulai berlangsung 29 Desember 2009 hingga 1 Januari 2010 itu merupakan rangkaian kegiatan Taman Budaya menutup tahun 2009 dengan kegiatan Panggung Seni Rakyat (Pasera) Puncak.

Sebanyak 147 foto yang ditampilkan pada pameran itu merupakan kumpulan foto yang dimiliki Yatna sejak tahun 1989 hingga sekarang.

"Selama ini hanya saya sendiri yang dapat menikmatinya. Melalui pameran hasil krejasama dengan Taman Budaya Riau saya ingin berbagi dengan penikmat seni lainnya. Saya merasa puas karya foto artisitik ini dapat dinikmati orang lain," ujar tenaga pengajar Universitas Islam Riau (UIR) ini, Kamis (31/12).

Dari foto-foto yang ditampilkan tersebut sekilas memandang tak terdapat hal yang menarik dan mengesankan. Foto artistik tersebut lebih mirip dengan sebuah lukisan hidup berupa atraksi seni seorang atau sekelompok orang yang tengah memperagakan tari atau teater. Tapi ketika satu per satu foto tersebut diamati secara seksama muncul sesuatu perasaan yang indah.

"Itulah seni, tak dapat diungkapkan dengan kata-kata tapi dapat dinikmati dengan perasaan. Itu pula sebabnya foto-foto ini tak mempunyai keterangan karena dari foto itu sudah bercerita tentang makna yang terkandung," tutur lulusan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (Asdrafi) Jogjakarta ini.

Foto yang ditampilkan Yatna tak hanya jepretan pertunjukan seni lokal, tapi juga nasional dan mancanegara. Foto itu diambil ketika penyelenggaraan iven seni nasional dan internasional, seperti pada Parade Tari Daerah dan Nasional. Sementara foto pertunjukan seni mancanegara diambil ketika tampil di Pekanbaru.

Dunia fotografi sudah dikenal Yatna ketika duduk di kelas V SD di Jakarta. Fotografi dikenalkan pamannya yang lebih awal menekuni profesi fotofrafer tersebut. Minat dan bakat fotografi ini terus berlanjut hingga Yatna kuliah di Asdrafi Jogjakarta. Tak banyak fotografer di Indonesia yang spesifik mengabadikan hasil pertunjukan seni sehingga karya seni fotografi yang ditampilkan Yatna dipameran tunggal pertamanya di Taman Budaya Riau menarik dinikmati.

"Perkembangan fotografi di Riau saat ini terus berkembang. Terbukti munculnya berbagai komoditas fotografer, hanya saja belum terkoordinir dengan baik sehingga belum begitu dikenal masyarakat. Seni foto juga masuk kategori budaya yang harus mendapat perhatian dan dikenalkan kepada masyarakat terutama kalangan pelajar," tutur Yatna yang berencana menyusun desertasi gelar doktornya di Universitas Negeri Padang (UNP) terkait seni pertunjukan.

Magister Pendidikan (S2 UNP) ini masih memiliki ratusan koleksi foto pertunjukan lainnya yang belum dibingkai. Pada setiap kesempatan pameran foto di luar negeri dan tingkat nasional, Yatna selalu mengikutkan hasil jepretan seni pertunjukannya yang ditampilkan oleh rekan-rekan seniman fotografer yang ikut pada kegiatan pameran tersebut.

Galeri Fotografi Dadakan
Pameran foto tunggal Yatna Yuana Sumardi di Gedung Olah seni Taman Budaya Riau merupakan yang pertama kali digelar. Hal ini tak terlepas dari fasilitas Taman Budaya Riau yang belum memiliki galeri seni, fotografi dan lukisan. Galeri foto yang ditampilkan Yatna merupakan inisiatif dadakan bersempena Panggung Seni Rakyat (Pasera) Puncak.

"Pameran foto ini untuk menarik minta pengunjung. Memanfaatkan ruang, Gedung Olah Seni supaya dapat dinikmati pecinta seni di Riau. Yatna merupakan pemancing penggiat seni lainnya untuk memanfaatkan gedung yang ada menggelar karyanya," ujar Kepala Taman Budaya Riau, Pulsiamitra.

Taman Budaya memberi kesempatan kepada seniman lainnya untuk menggelar karyanya di Gedung Olah Seni. Program yang dicanangkan tahun 2010, menghidupkan kembali pasar seni sebagai ajang menampilkan karya seni para seniman. Baik seni tari, lukis, forografi dan teater.

Gedung Olah Seni Taman Budaya yang diharapkan sebagai lokasi pameran atau pertunjukan seni sebenarnya belum memadai dan lengkap sarana yang dibutuhkan. Gedung yang dibangun puluhan tahun tersebut sudah tertinggal dalam hal desain dan dekorasi. Misalnya penataan lampu pertunjukan yang masih secara manual.

Hal ini terlihat dari pameran foto yang ditampilkan Yatna masih dibingkai dan pajang secara sederhana. Tak terdapat lampu artistik di papan pajangan foto yang dapat menambah nilai seni serta dapat dinikmati lebih seksama pada malam hari.

"Penampilannya masih sederhana, tapi foto yang ditampilkan cukup bagus," ujar seorang pengunjung, Yos. (hnk)

"Gus Dur"

Seniman Riau Gelar Pementasan Duka Gus Dur

Pekanbaru (ANTARA News) - Dewan Kesenian Riau (DKR) merayakan malam tahun baru 2010 dengan menggelar pementasan seni bertajuk "Pentas Duka Buat Gus Dur", di Pekanbaru, Riau, Jumat malam.

"Acara ini digelar untuk mengenang jasa beliau untuk kemajuan kesenian di Indonesia," kata Ketua DKR Edy RM kepada ANTARA News.

Menurut Edy RM, pergelaran tersebut sebenarnya merupakan acara dadakan karena bertepatan dengan pengumuman anugrah "Laman Cipta Sastra" untuk seniman Riau. "Tapi karena Gus Dur tiba-tiba wafat pada 30 Desember lalu, maka DKR memutuskan untuk mengemas acara anugrrah seni sekaligus untuk mengenang almarhum," kata Edy.

Pentas tersebut digelar secara sederhana di pendopo kecil di depan Bandar Seni Raja Ali atau yang dikenal warga dengan Purna Mtq. Acara tersebut diramaikan dengan aksi 10 seniman dan aktivis LSM di Pekanbaru yang membacakan puisi untuk mengenang Gus Dur, yang pada masa hidupnya sempat menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta pada era 1980-an.

Pada pojok kanan pentas, para seniman meletakan puluhan lilin dan dupa di depan poster bergambar wajah mantan Presiden Indonesia ke-4 itu. "Lilin dan dupa itu bukan bentuk kultus individu untuk Gus Dur, cuma ekspresi seniman untuk mengenang jasa almarhum," katanya.

Menurut Edy RM, Gus Dur berjasa dalam menumbuhkan kebebasan berekspresi dan berkesenian untuk Indonesia meski masa jabatannya sebagai presiden cukup singkat.

"Selah satu hal yang tidak akan dilupakan tentang Gus Dur adalah kebijakannya yang meniadakan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa setelah puluhan tahun dikekang rezim Orde Baru," kata Edy.

Sejak saat itulah, lanjut Edy, kesenian Tionghoa kembali muncul ke depan publik, diantaranya yang terkenal adalah kesenian barongsai.

"Gus Dur adalah bapak demokrasi, terutama untuk kesenian yang tidak akan hidup tanpa adanya kebebasan berekspresi," katanya.

Budayawan Riau, Chaidir, yang turut hadir dalam acara tersebut berpendapat Gus Dur adalah sosok yang penuh integritas dan ekspresif dalam mengemukakan pendapat.

"Gus Dur senang dengan keberagaman, dan kepergiannya membuat Indonesia kehilangan salah seorang sosok yang langka pada masa kini," kata Chaidir.(*)

Sampek Engtay Kolaborasi Teater Koma-Atmajaya

Saksikan Sampek Engtay Kolaborasi Teater Koma-Atmajaya
Selasa, 5 Januari 2010 | 20:38 WIB
Aria Sankhyaadi
Sampek Engtay, kolaborasi teater Koma dengan Unika Atmajaya, Jakarta. Graha Bhakti Budaya, TIM, Cikini, Jakarta Selasa (5/1/2010)

JAKARTA, KOMPAS.com- Teater Koma bersama Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Selasa (5/1/2010), berkolaborasi mempersembahkan teater bertemakan Sampek Engtay di Graha Bakti Budaya, Taman Izmail Marjuki, Cikini, Jakarta.

"Awalnya rektorat Unika Atmajaya memanggil Mas Nano. Beliau ingin ada satu kegiatan kesenian, akhirnya Mas Nano menawarkan bagaimana kalau kita (teater koma) melatih anak-anak mahasiswa dan mahiswi Atmajaya untuk bermain teater Sampek Engtay yang nantinya dimainkan malam ini," ucap Ratna Riantiarno salah satu pendiri teater Koma sekaligus istri dari Nano Riantiarno.

Pertunjukan teater Sampek Engtay malam nanti di GBB, TIM Jakarta telah dipersiapkan dengan matang sekali sebelumnya. "Mereka (anak-anak Atmajaya) mempersiapkan diri sejak Mei 2009 dan telah diadakan audisi sebelumnya. Kru-kru panggung, tim musik juga berasal dari teater koma sendiri," ucap Ratna.

Paulus, pemeran Sampek dari teater Koma
Pemerankan Engtay sebenarnya tengah menyusun skripsi, tetapi dia tinggal sejenak demi Sampek Engtay.
, menuturkan, berkolaborasi dengan teman-teman dari Atma sangat menyenangkan. "Saya seperti umur 22 tahun kembali," ucap Paulus.

Lebih lanjut Paulus berharap agar berteater bisa menjadi suatu budaya di negeri ini. "Tidak hanya melulu pergi ke bioskop terus" ujarnya.

Dirinya pun salut akan komitmen teman-teman dari Atmajaya. Mereka sepenuhnya melatih diri untuk Sampek Engtay ini, "Christin Maria Panjaitan yang memerankan Engtay saat ini sebenarnya tengah menyusun skripsi. Namun dia tinggal sejenak demi Sampek Engtay," ucap Paulus.

Christin sendiri sangat senang bisa ikut ambil bagian dalam pertunjukan malam ini. "Ini pengalaman yang pertama. Seru! Gue belajar banyak ilmu akting, khususnya teater itu sendiri, dari teater Koma. Selain itu teater Koma sangat mendukung dan membimbing kita semua yang pemula ini. Mereka nggak eksklusif," ucap mahasiswi yang tengah merampungkan skripsinya ini.

Dalam menanamkan sikap disiplin dan komitmen kepada teman-teman Atmajaya, teater Koma mempunyai cara tersendiri. "Kami yang menyesuaikan jadwal latihan sesuai dengan jadwal yang mereka bisa. Disamping itu kami menekankan, walaupun pertunjukan ini dimainkan para amatir, tapi amatir yang memainkannya secara profesional. Kita mengingatkan apa yang dilakukan saat ini pastilah ada ilmunya. Kita yang lama saja komit luar biasa, kenapa yang baru tidak bisa lebih komit dari kita?", ucap Ratna.

Pertunjukan Sampek Engtay ini diadakan dari 5 Januari-6 Januari 2009 pk 19.30 sampai selesai. "Kami memilih tema Sampek Engtay karena tema ini populer, sehingga walaupun dimainkan oleh teater kampus tetap bisa menjadi perhatian penggemar teater sendiri," ucap Ratna

Minggu, 03 Januari 2010

Produksi ke II sempeneRIAUteater




Tentang Pertunjukan

GeGer 5 JANUARI

(Selasa 5 Januari 2010. Pkl 20.00 WIB. Langan Hijau Rengat)


Diantara seni murni lainnya, teater menduduki tempat yang paling khusus karena dianggap sebagai karya seni terdekat dengan kehidupan; ia selalu ada dan muncul kembali dari masa ke masa. Tidak hanya pengalaman dan tindakan manusia sebagai subjek teater, tapi teater juga menggunakan tubuh (actor) untuk berkomunikasi dengan penonton (audiens). Bahkan teater memberikan tempat bagi wujud yang non realistic seperti tari, musik atau seni visual lainnya dalam pemaknaannya menjadi karya seni yang paling mampu mencipta kembali pengalaman tipikal manusia. “GeGeR 5 Januari” dengan konsep pertunjukan siluet dan multimedia teater dalam sajian performance art bertema perjuangan dan cita-cita ini diramu menjadi tontonan penuh klise-klise fragment yang direkatkan dalam beberapa lagu perjuangan. Harapan kami, sajian ini dapat memberikan arti baru kepada audiens untuk memaknai dan menghargai perjuangan 5 Januari 1949 di kota RENGAT-INDRAGIRI pada waktu itu.

Para Pelaku:

(Sanggar Seni DAyung SereMPAK SMKN I Rengat) Suri Ramalinda, Sri Mailasari, Deri Ramunda, Diki Wansa, Fatkur Rohman, Jefri Januardi, Nida Ulfadila, Yeti Skipta Sari, Yeli Fitriasari, Nuriaziana, Zulmahidon. (Sanggar Seni Danau Raja – SSDR Te SMA N I Rengat) Dian Permatasari, Putri Sundari, Ravico Despioni, Haryo Gunawan, Riri Amanda Fitriana, Rafvita Ismil, Deri, Sri Maila Sari, Cici Juningsih, Maya Mistriani, Fanny Destria Putri, Ricki Handra, Delvina Ginting, Indri Meidina, Nina Krenina, Said Deni Kurniawan. (SLTPN 1 Rengat & STIE Voice) Anggelia Valencia, Jenet Mariana, Rafiqah Ratu, Amelia Liliska, Pertiwi Maisriharti, Tara Selia Rachma, Nindiya Witrie, Rahmi Zagita Noerlita, Niken, Ria Marita, Wella, Mitra Dwi Haqqi, Meta Utami Putri, Septia Filbia Sari, Said Sa’ari, Nofri, Appri Ramadhianto, Rosiena Ermon


Pelaku Kreatif Pertunjukan : Mini Teater Kota Rengat 1989, Sempene Riau Teater.

Jusriaonto Sombolon, Said Fitriadi, Rengga Jamel Airiba, Syahridho, Kak Wati-dkk, Muhamad Farok Yuliansyah, SH. , Erimasnetty.S.Pd , M.Fajar Ramadhan, Rina Maya Sari, Sunarto, Adepura Indra, Asrul Muhda, Ramdani Syami, Mailiswin, Salimi Yusuf








Senin, 28 Desember 2009

ROH foto eva tobing dkj-Mini teater Kabupaten Indragiri Hulu Riau berjudul Roh karya Wisran Hadi di Balai Latihan Kesenian, Jakarta.




























































pangeran terubuk



LAPORAN DARI YOGYAKARTA
Romeo and Juliet van Melayu
26 Jun 2009 19:11 wib


YOGYAKARTA (RiauInfo) - “Ada Melayu di Jawa”. Itulah tema besar yang diangkat dalam Perhelatan Seni Budaya Melayu yang digelar pada (23/06) di Taman Budaya Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Panitia Bersama Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau Yogyakarta ini menyuguhkan beberapa rangkaian mata acara, yaitu Bazar Buku Budaya; Seminar Budaya Nasional; dan ditutup dengan Pertunjukan Opera Melayu (kolosal) dengan mengambil judul “Pangeran Terubuk”.

Racikan music orkestra dengan balutan vokal direktor dari Apollosius, terasa memberi keterikatan sangat prima dalam mengangkat performa pertunjukan opera Melayu (kolosal). Pertunjukan opera Melayu sendiri merupakan acara penutup dalam rangkaian Perhelatan Seni Budaya Melayu.

Hadir dalam acara ini, antara lain Rida K. Liamsi, Chief Executive Officer (CEO) Riau Pos Group dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budayaan Melayu, Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.
Opera karya Marhalim Zaini dengan direktor Ade Puraindra dan music Bayu Arsiadi ini, dimulai tepat Pukul 20.30 WIB.

Sebelum opera dimulai, terlebih dahulu diisi dengan kata sambutan dari Ketua Panitia, Fery Mardiyanto dan perwakilan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diwakili oleh dra. Dian Anggraini Rais selaku pengelola dari Taman Budaya Yogyakarta.

Dalam kata sambutannya, Fery Mardiyanto menggarisbawahi tujuan digelarnya Perhelatan Seni Budaya Melayu ini adalah memberikan frame bahwa Mahasiswa Riau merupakan mahasiswa yang berkarya dan berbudaya. Sedang dra. Dian Anggraini Rais, mengungkapkan bahwa keberagaman etnis bukanlah sebuah ancaman, melainkan, “... semen perekat dalam kehidupan multi etnis dalam berbangsa dan bernegara”.

Acara penutup yang menyuguhkan opera Melayu (kolosal) sendiri merupakan hasil kerjasama dari Sri Gelegar Orchestra pimpinan Apollosius, Seni Kepompong Riau, SMKN 2 Kasihan Bantul, Seni Teku Yogyakarta dan berbagai elemen independent lainnya. Pertunjukan dengan judul “Pangeran Terubuk” ini mengisahkan kisah cinta Romeo and Juliet van Melayu.

Karakter Pangeran Terubuk yang dimainkan oleh Rocky Marciano, menceritakan kisah percintaan antara Pangeran Terubuk dari Kerajaan Lautan dengan Puteri Puyu-Puyu dari Kerajaan Daratan. Kisah cinta dengan unhappy ending story ini berakhir tragis dengan kematian dari sang pangeran demi mendapatkan cinta dari sang puteri.

Beragam intrik sempat diangkat lewat cerita ini. Mulai dari hasutan yang melanda Kerajaan Daratan yang datang dari Menteri Belut selaku bawahan dari Pangeran Terubuk, fitnah yang menghujam Menteri Tengiri, hingga ambisi dari Puteri Puyu-Puyu yang harus tertahan karena keterikatan dengan kerajaaan, meski sebenarnya dirinya juga menaruh perasaan cinta pada sang pangeran.

Warna-warni pakaian dari pengisi acara menambah semarak semangat nilai kolosal dari opera yang dibawakan. Atraksi panggung dengan beragam warna bendera, semakin mengukuhkan suasana kolosal yang terbangun. Bahkan singgasana sang pangeranpun tersusun dari rangkaian tubuh dan tangan para penari sebagai pengganti properti.

Semua merupakan jalinan antara suara, musik, dan tubuh pemain. Sehingga keprimaaan dari penguasaan panggung, karakter, hingga olah vokal dari masing-masing pemain, musti terjaga benar kualitasnya.(ad/rls)






Geliat Gelora Teater Riau XI







Geliat Gelora Teater Riau XI 31 Oktober 2009 http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=6421&kat=11 GELORA Teater Riau XI merupakan kegiatan tahunan yang rutin telah berjalan lebih dari satu dasawarsa. Di tahun yang ke-11 ini diselenggarakan 28-31 Oktober 2009 di Gedung Auditorium Dewan Kesenian Riau (DKR) yang dimulai dari pukul 19.30-selesai. Acara tahunan yang diselenggarakan oleh DKR tahun ini menampilkan 10 penampilan kabupaten kota yang masing-masing mewakili kabupaten kotanya masing-masing maupun sanggarnya. Satu dari 10 peserta yang saya ketahui adalah Sempene Teater Riau, perwakilan dari Indragiri Hulu yang didirikan dua bulan yang lalu yang memang dikondisikan untuk acara ini, menggantikan mini teater yang dua tahun terakhir Gelora Teater Riau keluar sebagai juara umum. Mini teater sendiri tidak tampil lagi tahun ini karena telah dianggap menjadi master teater yang sekarang membina teater Inhu. Walaupun masih baru, Sempene Teater Riau ini sudah mulai membuka diri dengan komunitas teater di luar Sumatera, dengan cara sharing salah satunya. Dalam pementasan perdananya 30 Oktober nanti di Gelora Teater Riau XI mereka akan mementaskan Ranggung dalam Perjuangan karya Salimi Yusuf. Karya naskah yang dibuat tahun 1993 mengangkat tema cerita dengan atmosfer pertunjukan 1973 di tanah Logas, Taluk Kuantan. Namun, malam pertama Gelora Teater Riau XI yang saya hadiri terasa kurang tertata dan membosankan. Dan sepertinya antusiasme warga Riau sendiri terhadap acara ini bahkan bisa dikatakan tidak terasa. Acara ini seharusnya menjadi acara besar dan membanggakan bagi masyarakat Riau sendiri, khususnya bagi orang-orang teater sendiri. Sedangkan gedung yang tidak terlalu besar saja tidak terlalu dipenuhi penonton. Dan atmosfir yang dirasakan penonton sendiri seperti jenuh dan membosankan. Hal ini terlihat dari gelagat penonton yang mulai beranjak di tengah-tengah acara dan beberapa penonton juga malah ada yang tiduran. Berbeda sekali dengan Festival Teater Jogja yang diselenggarakan Juli-Agustus yang lalu. Antusias dan semangat yang dirasakan tidak hanya datang dari para penonton, namun juga para kreator dan kelompok-kelompok teater yang ada. Dalam setiap pementasan pesertanya selalu dipenuhi penonton yang tidak hanya dihadiri oleh pekerja dan peminat seni saja, namun juga oleh warga sekitarnya, tua, muda, juga ada anak-anak. Festival Teater Jogja dan Gelora Teater Riau merupakan sama-sama agenda tahunan yang menghasilkan pemenang tiap tahunnya. Sedangkan FTJ diadakan tiga tahun sekali dengan sistem kurasi yang diselenggarakan setiap tahunnya. FTJ dengan dana yang sangat minim tetap berusaha diselengarakan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat yang menjadi penontonnya. Namun, kenapa di Riau ini peminat dan perhatian terhadap seni pertunjukan teater masih kurang? Apakah karena seni teater sendiri masih sangat jauh dengan penontonnya? Atukah tidak adanya dedikasi yang keras dari para pelakunya untuk mengembangkan teater di Riau menjadi lebih berkembang? Di umur Gelora Teater Riau yang ke-11 ini seharusnya telah mampu membangkitkan teater Riau. Namun untuk membangkitkan teater Riau juga perlu dukungan dan apresiasi dari masyarakat dan pemerintah daerahnya sendiri. Tidak ada salahnya Gelora Teater Riau ke depan mencoba sistem kurasi yang mudah-mudahan mampu memacu para kreator Riau untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Penuh harapan, melalui Gelora Teater Riau ke depan, teater Riau mampu bangkit dan hidup seterusnya, serta mampu membangkitkan minat dan apresiasi masyarakat Riau terhadap seni pertunjukan teater. Sukseskan Gelora Teater Riau tahun ini dan Teater Riau ke depan.*** Dessy Kamila Sari, mahasiswa Sastra Inggris UAD Yogyakarta sedang berada di Pekanbaru.






Potensi Sutradara dan Aktor Belum Matang
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.com
Gelora Teater XI se Riau, 28-31 Oktober baru saja usai. Tiga dewan pengamat yang bertungkus-lumus memberikan penilaian selama empat malam berturut-turut menegaskan, bahwa Riau memiliki potensi besar untuk berkembang. Sayangnya, potensi-potensi tersebut tidak tergarap secara maksimal sehingga karya-karya yang dihasilkan belum menunjukkan hasil memuaskan.


HARUS diakui, bahwa karya-karya yang diikutsertakan dalam helat teater Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun ini menurun tajam. Selain jumlah peserta, kualitas karya juga mengalami penurunan. Tidak hanya itu, beberapa grup yang selama ini bersaing ketat juga absen sehingga pelaksanaan helat tersebut tidak dapat dibanggakan sama sekali.

Meski demikian, namanya lomba, dewan pengamat harus memilih pemenang, meski cendrung bersifat membagi sekedar memotivasi semangat berteater bagi para pelakunya. Untuk tahun ini, peserta asal Rengat-Indragiri Hulu yakni grup Sempene Teater Riau mendominasi dengan meraup tiga kategori puncak antara lain penyaji terbaik, sutradara terbaik dan aktor terbaik. Sedang sedang empat kategori lainnya berbagi antara Pekanbaru, Bengkalis dan Rohil. Aktris terbaik diraih Ika Elizar asal Sanggar Kosan dan artistik diraih Saharudin Sanggar D?Srai (Pekanbaru). Sedang pemeran pembantu pria terbaik diambil Iqbal asal Sanggar Balairung (Rohil) serta pemeran pembantu wanita terbaik diraih Nia asal Sanggar Pancang Siak Kecil (Bengkalis).

Salah seorang dewan pengamat Edi Suwisnyo (STSI Padangpanjang) menjelaskan, potensi besar tidak akan dapat memberikan hasil baik jika tidak dibarengi penggarapan baik pula. Mau tidak mau, nyaris seluruh peserta dinilai tidak kreatif dalam hal pencapaian sebab karya-karya yang ditampilkan masih tanggung, bahkan mentah. Padahal untuk menghasilkan karya-karya itu bukan dari sebuah hasil yang pendek, melainkan melalui proses yang cukup panjang.

Selain itu, banyak pula sutradara, apalagi aktor tidak mampu mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Alasannya, ketidakmengertian terhadap naskah serta terlalu memudahkannya tanpa mempertimbangkan persoalan penting dalam sebuah kerja kreatif. Akibatnya segala unsur pendukung seperti pengolahan penyutradaan, keaktoran, penataan panggung, pemilihan warna, kostum, make up dan lainnya masih perlu digarap dengan upaya pembelajaran-pembelajaran yang intens.

?Harus diakui, peserta yang tampil memiliki potensi besar tapi belum tergarap secara maksimal sehingga karya-karya mereka kami nilai tidak kreatif. Ke depan, jadikan tahun ini sebagai pengalaman untuk menghasilkan karya terbaik pada tahun berikutnya,? ulas Edi kepada Riau Pos, Ahad (1/11) di Gedung Teater DKR, Komplek Bandar Serai, Pekanbaru.

Seorang dewan pengamat lainnya Suharyoto Sastro Suwitnyo (mas Aryo) menambahkan, karya-karya yang ditampilkan juga tidak satupun mengangkat kondisi lokal hari ini. Sebagian besar pengkarya hanya mengulang-ulang kembali karya-karya Melayu sebelumnya seperti mengambil naskah Burung Tiung Sri Gading Karya Hasan Junus tanpa memberikan interpretasi kekinian. Selain itu, karya Melayu lain yang terkesan verbal karya SPN GP Ade Darmawi Mahkota Jiwa dan karya Usman Awang (sastrawan Malaysia) serta banyak lagi.

Padahal masih banyak naskah yang lebih baik untuk mewakili kondisi Riau kekinian melalui interpretasi sang sutradara. Keinginan tersebut harusnya lebih digali sehingga karya yang ditampilkan bisa lebih aktual dan memberikan pencerahan-pencerahan. Tidak dipungkiri, bahwa karya-karya sastrawan lokal memiliki unsur edukasi dan pencerahan tapi sang sutradara hanya menuangkan begitu saja di atas panggung.
Saya berharap, ke depannya karya-karya yang ditampilkan jauh lebih maju dan memiliki pesan moral dengan nuansa kelokalan,? tambahnya mengakhiri.(fed)
kotakata.File