sempeneRIAUteater adalah sebuah komunitas teater yang berdiri pada akhir november 2009 di Rengat,Riau. komunitas ini adalah peleburan dari satu komunitas besar sebagai induknya yaitu sanggar MiniTeaterKotaRengat 1989.
Jumlah Pengunjung Saat Ini
Jumat, 17 Desember 2010
Kamis, 25 November 2010
Jumat, 23 Juli 2010
Rabu, 19 Mei 2010
Malaysia Promosikan Kebhinekaan Budayanya
Malaysia Promosikan Kebhinekaan Budayanya
Malaysia hendak menunjukkan bagaimana kebudayaannya terdiri dari komponen-komponen yang terpisah dan berbeda namun mencerminkan sebuah lanskap yang telah dibentuk oleh penggabungan dari budaya masyarakat Malaysia secara kosmopolitan. "Ini merupakan campuran menarik dari unsur budaya kelompok etnis utama dengan orang-orang pribumi di negara ini," kata Rais Yatim sebelum acara dimulai.
Menurut Surin Pitsuwan, budaya merupakan sebuah kekuatan untuk menginspirasi kreativitas dan membantu merekatkan komunitas di tengah masyarakat yang berbeda-beda. Dia mengaku bahwa ASEAN sebagai penyelenggara sangat bahagia dapat menggelar acara seperti ini. "Kami memberi kehormatan untuk keanekaragaman budaya, toleransi, dialog dan kerja sama," katanya.
Adapun Tifatul mengatakan bahwa acara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi oleh negara-negara anggota ASEAN, seperti Indonesia dan Malaysia. "Kita ini negara serumpun. Ini merupakan ajang promosi kita bersama," katanya.
Acara tersebut, kata dia, merupakan bagian dari usaha pemerintah dalam diplomasi budaya. "Kami berharap melalui diplomasi budaya seperti ini kita dapat meredakan pernik-pernik perbedaan yang pernah ada," kata Tifatul.
Menurut Rais Yatim, acara tersebut merupakan acara tradisi ASEAN, khususnya di bidang seni, yang malam itu giliran Malaysia mempertunjukkan kesenian dan kebudayaannya. Acara ini, katanya, juga bertujuan untuk merekatkan kembali persahabatan di negara anggota ASEAN, khususnya antara Indonesia dan Malaysia.
"Budaya di Malaysia merupakan penggabungan unik bentuk budaya, nilai-nilai dan praktik yang kaya dan beragam," kata Rais.
Malam itu Malaysia menyajikan tiga segmen kebudyaannya, yakni yang tradisional, modern dan kontemporer, yang di tiap-tiap segmen menggambarkan cirinya yang beragam karena konteks, asal-usul dan hal-hal yang mempengaruhinya. Sekitar 400 tamu menikmati bermacam-macam musik, lagu, dan tari dari Malaysia.
Segmen tradisional menggambarkan berbagai suku di negeri itu, seperti Cina, India dan Arab. Para pengunjung dapat menangkapnya dengan jelas sejak tiba di pintu masuk Usmar Ismail Hall sudah disambut oleh para pemuda Malaysia yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di negerinya, termasuk busana khas Cina, Arab dan India. Dalam segmen ini ditampilkan lagu "Our Roots" oleh Muhammad Ikhwal, tarian Cina, tari zapin dari Arab, dan tari rakyat India. "Ini menggambarkan keragaman etnis yang ada di Malaysia," kata Rais.
Segmen kedua memperkenalkan Malaysia sebagai negara modern dengan Kuala Lumpur sebagai pusat kesenian. Di sini disajikan pertunjukan musik "Zikir in Fusion" dan "Zapin in Fusion" serta lagu "Kuala Lumpur: A Vibrant City of Culture" oleh Noryn Aziz.
Adapun segmen terakhir menggambarkan Malaysia sebagai masyarakat dengan satu irama satu gerakan, yang hidup bersama secara harmonis dan berjuang untuk kemakmuran Malaysia. Di panggung kali ini disajikan pertunjukan musik "One Rhythm, One Movement" oleh Sham, Sesatre dan Kam, "Malaysia in 1" dan joget Malaysia.
Herry Fitriadi
Rampak Melayu dalam Panggung Serantau
Rampak Melayu dalam Panggung Serantau
TEMPO Interaktif, Pokok beringin daunnya lebat
Ditanam orang di negeri Siam
Kami ingin berkenal dekat
Di mana rumah tempat berdiam
Lebat daunnya di pokok beringin
Akar menjuntai sempat ke bawah
Jika itu yang Cik Abang ingin
Tanyakan saja pada Toke
Gelak tawa berhambur cicit-mencicit dari mulut sekelompok ronggeng Melayu. Mereka berhimpun satu sama lain mengelilingi seorang Cina totok yang mereka sebut Toke. Perempuan penghibur itu sangatlah rupawan. Sampai-sampai tiga lelaki hidung belang itu mabuk kepayang ingin bertegur sapa.
Pantun berlarik-larik mereka lantunkan demi menarik hati. Ronggeng itu membalasnya satu demi satu. Rupanya tak semudah itu mereka mendapatkannya. Untuk menggunakan jasa para penghibur, mereka harus membeli tiket dari Toke.
Begitulah dialog terjadi antara Toke dan tiga lelaki hidung belang itu. Salah satu cuplikan teatrikal berjudul Berbalas Pantun dalam pertunjukan Panggung Melayu Serantau, pada Jumat malam pekan lalu, di Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta. Pergelaran tarian Melayu tersebut digarap oleh koreografer ulung Arison Tom Ibnur.
“Tari Melayu tak lagi populer sejak Orde Baru,” kata Tom. Padahal, semasa pemerintahan Bung Karno pada 1950-an, tari Melayu, seperti Serampang Dua Belas atau Mak Inang Pulau Kampai, dikukuhkan menjadi tarian nasional. Kedua tari karya maestro tari Melayu, Sauti, tersebut digarap dengan sangat rampak pada pementasan kali ini.
Keberadaan ronggeng, kata Tom, tak hanya ada di Jawa. Masyarakat Melayu juga menyebut perempuan penghibur ini sebagai ronggeng. Bahkan hingga saat ini masih bisa ditemui di desa-desa kecil masyarakat Melayu. Tak dimungkiri bahwa peran ronggeng selalu identik dengan prostitusi. Namun masih ada juga yang hanya berlaku sebagai perempuan penghibur.
Tom mengatakan filosofi tarian Melayu tak kalah kaya dibanding tarian Jawa. Serampang Dua Belas, misalnya, yang mengisahkan perjalanan cinta sepasang muda-mudi. Terdapat 12 tema yang bercerita seputar muda-mudi tersebut memulai pendekatan dan akhirnya merajut pernikahan. Apabila mereka sudah saling mengaitkan sapu tangan masing-masing, pertanda pernikahan telah mereka lakukan.
Berangkat dari sebuah tarian rakyat, Serampang Dua Belas berkembang di seluruh Kepulauan Nusantara, termasuk Malaysia dan Filipina. Sang kreator Sauti kemudian memolakannya sehingga tarian tersebut bisa dipelajari dan dikembangkan. "Saya khawatir pakem-pakem yang sudah dibuat oleh Sauti itu menjadi usang dan tidak diperhatikan lagi sebagai khazanah Indonesia," ujar Tom.
Menurut Tom, pergelaran ini salah satu cara mereka cipta sekaligus mereaktualisasi keberadaan tari Melayu. Tom menampilkan enam komposisi tari karyanya sendiri ataupun karya Sauti. Diawali dengan Sembah Makan Sirih, tarian persembahan sekapur sirih sebagai simbol rasa hormat bagi tetamu dalam sebuah perhelatan. Para penari perempuan membawa tempat sirih dan rangkaian bunga menunjukkan keramahan dan kehalusan budi. Penari pria dengan gagah membawa payung emas bertingkat yang menunjukkan kemegahan budaya Melayu. Gerakan tari kemudian berakhir dengan mempersembahkan sirih tersebut kepada para tamu.
Ada pula tari Zapin Dana Bedana. Tarian yang semula dibawa para saudagar Arab ini telah diadopsi seutuhnya oleh masyarakat Melayu. Tari Zapin menunjukkan kegembiraan muda-mudi. Pada awalnya kaum perempuan tak diperbolehkan menari Zapin. Tapi masyarakat Melayu telah memperbolehkannya. "Saya coba libatkan perempuan menari Zapin tapi masih dalam tata krama dan sopan santun Melayu,” kata Tom.
Bermula dari gerakan dua penari laki-laki, salah satunya Tom, di atas sebuah permadani. Mereka beradu gerak, saling melengkapi hingga membentuk semacam dialog dalam gerakan. Alas permadani yang digelar bukan tanpa alasan. Karpet indah ini menunjukkan kepiawaian penari. Barang siapa yang mampu menari di atas karpet tanpa terlipat, sudah lihailah mereka. Tingkatan selanjutnya, mereka boleh menggunakan alas rotan.
Selepas gerakan duet pembuka itu, para penari laki-laki dan perempuan berpasangan menghambur memenuhi panggung. Suasana riang kental terasa. Gerakan-gerakan canda sesekali terlihat. Saking riuhnya, kadang gerak mereka menjompak-jompak mengajak diri larut dalam keriangan itu.
Tak hanya dendang tarian, tapi musik juga mengalun riang. Seperangkat alat musik, seperti biola, akordeon, kendang, dan gambus, tertata sedemikian rupa. Ditambah lagi pelantun lagu yang kental dengan cengkok Melayu. Bahkan pada satu kesempatan, penonton diajak serta berdendang bersama, membaur dalam panggung.
Pentas itu boleh dibilang tak semeriah keberadaan tari Melayu. Belakangan popularitas tarian Melayu makin memudar. Tokoh-tokohnya juga banyak yang meninggal dan tak sempat melakukan regenerasi.
Bahkan ciptaan Sauti justru populer di luar Indonesia. Di sana, tarian tersebut dipelihara dan dikembangkan menjadi lebih kontemporer. "Mereka menghargai tarian Sauti itu milik Indonesia," Tom menjelaskan.
Ismi Wahid
Selasa, 06 April 2010
11 Kelompok Seni Pertunjukan Raih Program Kompetitif Hibah Seni Kelola-Hivos 2010
11 Kelompok Seni Pertunjukan Raih Program Kompetitif Hibah Seni Kelola-Hivos 2010
Sebanyak 11 kelompok seni pertunjukan yang tersebar di lima provinsi Indonesia, berhasil meraih kesempatan untuk berpentas didukung oleh Program Kompetitif Hibah Seni Kelola-Hivos 2010. Mereka telah berkompetisi dengan 54 proposal yang masuk sejak Program Kompetitif Hibah Seni Kelola-Hivos 2010 dibuka akhir tahun 2009.
Program Hibah Seni merupakan program dukungan dana kompetitif untuk kegiatan seni pertunjukan di Indonesia ini telah teruji selama kurun waktu 10 tahun. Melalui program ini Kelola hendak mendorong praktik penyelenggaraan hibah kesenian yang lebih terbuka dan kompetitif. Alasan lain program ini juga bertujuan mengembangkan kemampuan manajemen para peraih Program Kompetitif Hibah Seni.
Berikut adalah 11 Peraih Program Kompetitif Hibah Seni 2010 yang telah lolos penilaian tim seleksi; Amna S. Kusumo (Kelola, Jakarta), Imas Sobariah (teater,Lampung), Joned Suryatmoko (teater, Yogyakarta), Michael Asmara (musik, Yogyakarta) dan S. Trisapto (tari, Jakarta).
A. Karya Inovatif
1. The Royal Actor Experimental Theatre, Jember, Teater: AKAL BULUS SCAPIN
2. Laskar Panggung, Bandung, Teater: SIKAT SIKUT SAKIT
3. Dwi Windarti, Solo, Tari: MENCARI HARMONI
4. Bengkel Mime Teater, Bantul, Teater Mime: PUTRI EMBUN DAN PANGERAN BINTANG
5. Wendy HS, Padangpanjang, Teater: TAMBO RANTAU: KABAR DARI NAGARI LAKI LAKI
6. Imam Mahfud, Ponorogo, Tari: JARANAN THEK KESURUPAN PLASTIK
B. Pentas Keliling
1. Galang Dance Company , Padang, Tari: PENANTIAN
2. Studiklub Teater Bandung, Bandung, Teater: AH, MATJAM-MATJAM MAOENJA
3. Seni Teku, Bantul, Teater: KINTIR : ANAK-ANAK MENGALIR DI SUNGAI
4. Melki Jemri Edison Neolaka, S.Sn, Bantul, Tari: MUMSO NOK TUA
5. Padepokan Seni Sarotama, Karanganyar, Wayang: GATHUTKACA JEDHI
Kami berharap dengan adanya pengumuman hasil peraih Program Kompetitif Hibah Seni Kelola-Hivos 2010, Friends of Kelola berkenan untuk menyebarluaskan berita gembira ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan untuk melestarikan kekayaan seni Indonesia. Sekian dan terima kasih.
Peraih Program Magang Nusantara Kelola 2010 – Hivos Segera Magang di 13 Organisasi Tuan Rumah
Peraih Program Magang Nusantara Kelola – Hivos Segera Magang di 13 Organisasi Tuan Rumah
Program Magang Nusantara tahun 2010 telah menyeleksi calon peserta hingga terpilih 14 peraih program Magang Nusantara Kelola-Hivos yang akan segara magang di 13 Organisasi Tuan Rumah (OTR) yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Program ini memberi kesempatan kepada pekerja seni atau pelaku seni untuk melihat dan belajar, bekerja serta mengembangkan jejaring di suatu organisasi profesional yang teruji dan memiliki reputasi yang baik.
Sasaran yang diharapkan dari program magang adalah peraih program Magang Nusantara bisa membagikan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti magang ke komunitas asalnya dan mengembangkan jejaring dengan komunitas yang lebih luas setelah program ini selesai.
Berikut adalah nama-nama peraih program kompetitif Magang Nusantara 2010 beserta Organisasi Tuan Rumah di mana mereka akan dimagangkan:
1. Centre Culturel Francais, Jakarta - Tri Asih Puspitaningtyas, Bandung
2. Galeri Antara, Jakarta - Didi Mugitriman, Jambi
3. Goethe Institut, Jakarta - Nurhamsiah, Makassar
4. Japan Foundation, Jakarta - Sekar Putri Handayani, Sukoharjo
5. YMMI JiFFest, Jakarta - Fatris M.F., Padang
6. Kineforum, Jakarta - Ayu Suminar, Bangka Belitung
7. Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Yogyakarta - Amanda Manggiasih PC, Bandung
8. LPK Natya Lakshita Didik Nini Thowok Yogyakarta - Deden Tresnawan, Bandung
9. Saung Angklung Udjo, Bandung - Wildan Kurnia, Garut
10. Selasar Sunaryo Art Space, Bandung - Chabib Duta Hapsoro, Semarang
11. Teater Garasi, Yogyakarta - Hayyu Citra Herdana, Tangerang
12. Teater Koma, Jakarta - La Ode Farid Ahkyar H., Bau – Bau dan Ade Puraindra, Riau
13. Yayasan Bagong Kussudiardja, Yogyakarta - Femmy, S.Sos, Padang
Kami berharap dengan adanya pengumuman hasil seleksi Magang Nusantara 2010, Friends of Kelola berkenan untuk menyebarluaskan berita gembira ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan untuk melestarikan kekayaan seni Indonesia. Sekian dan terima kasih.




