Jumlah Pengunjung Saat Ini

Senin, 28 Desember 2009

ROH foto eva tobing dkj-Mini teater Kabupaten Indragiri Hulu Riau berjudul Roh karya Wisran Hadi di Balai Latihan Kesenian, Jakarta.




























































pangeran terubuk



LAPORAN DARI YOGYAKARTA
Romeo and Juliet van Melayu
26 Jun 2009 19:11 wib


YOGYAKARTA (RiauInfo) - “Ada Melayu di Jawa”. Itulah tema besar yang diangkat dalam Perhelatan Seni Budaya Melayu yang digelar pada (23/06) di Taman Budaya Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Panitia Bersama Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau Yogyakarta ini menyuguhkan beberapa rangkaian mata acara, yaitu Bazar Buku Budaya; Seminar Budaya Nasional; dan ditutup dengan Pertunjukan Opera Melayu (kolosal) dengan mengambil judul “Pangeran Terubuk”.

Racikan music orkestra dengan balutan vokal direktor dari Apollosius, terasa memberi keterikatan sangat prima dalam mengangkat performa pertunjukan opera Melayu (kolosal). Pertunjukan opera Melayu sendiri merupakan acara penutup dalam rangkaian Perhelatan Seni Budaya Melayu.

Hadir dalam acara ini, antara lain Rida K. Liamsi, Chief Executive Officer (CEO) Riau Pos Group dan Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budayaan Melayu, Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.
Opera karya Marhalim Zaini dengan direktor Ade Puraindra dan music Bayu Arsiadi ini, dimulai tepat Pukul 20.30 WIB.

Sebelum opera dimulai, terlebih dahulu diisi dengan kata sambutan dari Ketua Panitia, Fery Mardiyanto dan perwakilan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diwakili oleh dra. Dian Anggraini Rais selaku pengelola dari Taman Budaya Yogyakarta.

Dalam kata sambutannya, Fery Mardiyanto menggarisbawahi tujuan digelarnya Perhelatan Seni Budaya Melayu ini adalah memberikan frame bahwa Mahasiswa Riau merupakan mahasiswa yang berkarya dan berbudaya. Sedang dra. Dian Anggraini Rais, mengungkapkan bahwa keberagaman etnis bukanlah sebuah ancaman, melainkan, “... semen perekat dalam kehidupan multi etnis dalam berbangsa dan bernegara”.

Acara penutup yang menyuguhkan opera Melayu (kolosal) sendiri merupakan hasil kerjasama dari Sri Gelegar Orchestra pimpinan Apollosius, Seni Kepompong Riau, SMKN 2 Kasihan Bantul, Seni Teku Yogyakarta dan berbagai elemen independent lainnya. Pertunjukan dengan judul “Pangeran Terubuk” ini mengisahkan kisah cinta Romeo and Juliet van Melayu.

Karakter Pangeran Terubuk yang dimainkan oleh Rocky Marciano, menceritakan kisah percintaan antara Pangeran Terubuk dari Kerajaan Lautan dengan Puteri Puyu-Puyu dari Kerajaan Daratan. Kisah cinta dengan unhappy ending story ini berakhir tragis dengan kematian dari sang pangeran demi mendapatkan cinta dari sang puteri.

Beragam intrik sempat diangkat lewat cerita ini. Mulai dari hasutan yang melanda Kerajaan Daratan yang datang dari Menteri Belut selaku bawahan dari Pangeran Terubuk, fitnah yang menghujam Menteri Tengiri, hingga ambisi dari Puteri Puyu-Puyu yang harus tertahan karena keterikatan dengan kerajaaan, meski sebenarnya dirinya juga menaruh perasaan cinta pada sang pangeran.

Warna-warni pakaian dari pengisi acara menambah semarak semangat nilai kolosal dari opera yang dibawakan. Atraksi panggung dengan beragam warna bendera, semakin mengukuhkan suasana kolosal yang terbangun. Bahkan singgasana sang pangeranpun tersusun dari rangkaian tubuh dan tangan para penari sebagai pengganti properti.

Semua merupakan jalinan antara suara, musik, dan tubuh pemain. Sehingga keprimaaan dari penguasaan panggung, karakter, hingga olah vokal dari masing-masing pemain, musti terjaga benar kualitasnya.(ad/rls)






Geliat Gelora Teater Riau XI







Geliat Gelora Teater Riau XI 31 Oktober 2009 http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=6421&kat=11 GELORA Teater Riau XI merupakan kegiatan tahunan yang rutin telah berjalan lebih dari satu dasawarsa. Di tahun yang ke-11 ini diselenggarakan 28-31 Oktober 2009 di Gedung Auditorium Dewan Kesenian Riau (DKR) yang dimulai dari pukul 19.30-selesai. Acara tahunan yang diselenggarakan oleh DKR tahun ini menampilkan 10 penampilan kabupaten kota yang masing-masing mewakili kabupaten kotanya masing-masing maupun sanggarnya. Satu dari 10 peserta yang saya ketahui adalah Sempene Teater Riau, perwakilan dari Indragiri Hulu yang didirikan dua bulan yang lalu yang memang dikondisikan untuk acara ini, menggantikan mini teater yang dua tahun terakhir Gelora Teater Riau keluar sebagai juara umum. Mini teater sendiri tidak tampil lagi tahun ini karena telah dianggap menjadi master teater yang sekarang membina teater Inhu. Walaupun masih baru, Sempene Teater Riau ini sudah mulai membuka diri dengan komunitas teater di luar Sumatera, dengan cara sharing salah satunya. Dalam pementasan perdananya 30 Oktober nanti di Gelora Teater Riau XI mereka akan mementaskan Ranggung dalam Perjuangan karya Salimi Yusuf. Karya naskah yang dibuat tahun 1993 mengangkat tema cerita dengan atmosfer pertunjukan 1973 di tanah Logas, Taluk Kuantan. Namun, malam pertama Gelora Teater Riau XI yang saya hadiri terasa kurang tertata dan membosankan. Dan sepertinya antusiasme warga Riau sendiri terhadap acara ini bahkan bisa dikatakan tidak terasa. Acara ini seharusnya menjadi acara besar dan membanggakan bagi masyarakat Riau sendiri, khususnya bagi orang-orang teater sendiri. Sedangkan gedung yang tidak terlalu besar saja tidak terlalu dipenuhi penonton. Dan atmosfir yang dirasakan penonton sendiri seperti jenuh dan membosankan. Hal ini terlihat dari gelagat penonton yang mulai beranjak di tengah-tengah acara dan beberapa penonton juga malah ada yang tiduran. Berbeda sekali dengan Festival Teater Jogja yang diselenggarakan Juli-Agustus yang lalu. Antusias dan semangat yang dirasakan tidak hanya datang dari para penonton, namun juga para kreator dan kelompok-kelompok teater yang ada. Dalam setiap pementasan pesertanya selalu dipenuhi penonton yang tidak hanya dihadiri oleh pekerja dan peminat seni saja, namun juga oleh warga sekitarnya, tua, muda, juga ada anak-anak. Festival Teater Jogja dan Gelora Teater Riau merupakan sama-sama agenda tahunan yang menghasilkan pemenang tiap tahunnya. Sedangkan FTJ diadakan tiga tahun sekali dengan sistem kurasi yang diselenggarakan setiap tahunnya. FTJ dengan dana yang sangat minim tetap berusaha diselengarakan dan dinikmati oleh seluruh masyarakat yang menjadi penontonnya. Namun, kenapa di Riau ini peminat dan perhatian terhadap seni pertunjukan teater masih kurang? Apakah karena seni teater sendiri masih sangat jauh dengan penontonnya? Atukah tidak adanya dedikasi yang keras dari para pelakunya untuk mengembangkan teater di Riau menjadi lebih berkembang? Di umur Gelora Teater Riau yang ke-11 ini seharusnya telah mampu membangkitkan teater Riau. Namun untuk membangkitkan teater Riau juga perlu dukungan dan apresiasi dari masyarakat dan pemerintah daerahnya sendiri. Tidak ada salahnya Gelora Teater Riau ke depan mencoba sistem kurasi yang mudah-mudahan mampu memacu para kreator Riau untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Penuh harapan, melalui Gelora Teater Riau ke depan, teater Riau mampu bangkit dan hidup seterusnya, serta mampu membangkitkan minat dan apresiasi masyarakat Riau terhadap seni pertunjukan teater. Sukseskan Gelora Teater Riau tahun ini dan Teater Riau ke depan.*** Dessy Kamila Sari, mahasiswa Sastra Inggris UAD Yogyakarta sedang berada di Pekanbaru.






Potensi Sutradara dan Aktor Belum Matang
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru fedliazis@riaupos.com
Gelora Teater XI se Riau, 28-31 Oktober baru saja usai. Tiga dewan pengamat yang bertungkus-lumus memberikan penilaian selama empat malam berturut-turut menegaskan, bahwa Riau memiliki potensi besar untuk berkembang. Sayangnya, potensi-potensi tersebut tidak tergarap secara maksimal sehingga karya-karya yang dihasilkan belum menunjukkan hasil memuaskan.


HARUS diakui, bahwa karya-karya yang diikutsertakan dalam helat teater Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun ini menurun tajam. Selain jumlah peserta, kualitas karya juga mengalami penurunan. Tidak hanya itu, beberapa grup yang selama ini bersaing ketat juga absen sehingga pelaksanaan helat tersebut tidak dapat dibanggakan sama sekali.

Meski demikian, namanya lomba, dewan pengamat harus memilih pemenang, meski cendrung bersifat membagi sekedar memotivasi semangat berteater bagi para pelakunya. Untuk tahun ini, peserta asal Rengat-Indragiri Hulu yakni grup Sempene Teater Riau mendominasi dengan meraup tiga kategori puncak antara lain penyaji terbaik, sutradara terbaik dan aktor terbaik. Sedang sedang empat kategori lainnya berbagi antara Pekanbaru, Bengkalis dan Rohil. Aktris terbaik diraih Ika Elizar asal Sanggar Kosan dan artistik diraih Saharudin Sanggar D?Srai (Pekanbaru). Sedang pemeran pembantu pria terbaik diambil Iqbal asal Sanggar Balairung (Rohil) serta pemeran pembantu wanita terbaik diraih Nia asal Sanggar Pancang Siak Kecil (Bengkalis).

Salah seorang dewan pengamat Edi Suwisnyo (STSI Padangpanjang) menjelaskan, potensi besar tidak akan dapat memberikan hasil baik jika tidak dibarengi penggarapan baik pula. Mau tidak mau, nyaris seluruh peserta dinilai tidak kreatif dalam hal pencapaian sebab karya-karya yang ditampilkan masih tanggung, bahkan mentah. Padahal untuk menghasilkan karya-karya itu bukan dari sebuah hasil yang pendek, melainkan melalui proses yang cukup panjang.

Selain itu, banyak pula sutradara, apalagi aktor tidak mampu mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Alasannya, ketidakmengertian terhadap naskah serta terlalu memudahkannya tanpa mempertimbangkan persoalan penting dalam sebuah kerja kreatif. Akibatnya segala unsur pendukung seperti pengolahan penyutradaan, keaktoran, penataan panggung, pemilihan warna, kostum, make up dan lainnya masih perlu digarap dengan upaya pembelajaran-pembelajaran yang intens.

?Harus diakui, peserta yang tampil memiliki potensi besar tapi belum tergarap secara maksimal sehingga karya-karya mereka kami nilai tidak kreatif. Ke depan, jadikan tahun ini sebagai pengalaman untuk menghasilkan karya terbaik pada tahun berikutnya,? ulas Edi kepada Riau Pos, Ahad (1/11) di Gedung Teater DKR, Komplek Bandar Serai, Pekanbaru.

Seorang dewan pengamat lainnya Suharyoto Sastro Suwitnyo (mas Aryo) menambahkan, karya-karya yang ditampilkan juga tidak satupun mengangkat kondisi lokal hari ini. Sebagian besar pengkarya hanya mengulang-ulang kembali karya-karya Melayu sebelumnya seperti mengambil naskah Burung Tiung Sri Gading Karya Hasan Junus tanpa memberikan interpretasi kekinian. Selain itu, karya Melayu lain yang terkesan verbal karya SPN GP Ade Darmawi Mahkota Jiwa dan karya Usman Awang (sastrawan Malaysia) serta banyak lagi.

Padahal masih banyak naskah yang lebih baik untuk mewakili kondisi Riau kekinian melalui interpretasi sang sutradara. Keinginan tersebut harusnya lebih digali sehingga karya yang ditampilkan bisa lebih aktual dan memberikan pencerahan-pencerahan. Tidak dipungkiri, bahwa karya-karya sastrawan lokal memiliki unsur edukasi dan pencerahan tapi sang sutradara hanya menuangkan begitu saja di atas panggung.
Saya berharap, ke depannya karya-karya yang ditampilkan jauh lebih maju dan memiliki pesan moral dengan nuansa kelokalan,? tambahnya mengakhiri.(fed)
kotakata.File



Jumat, 15 Mei 2009

DRAMATURGI

DRAMATURGI
Genre Drama

Dua genre yang utama sejak masa Yunani adalah tragedi dan komedi. Disamping itu terdapat pula genre-genre melodrama, farce, tragikomedi, komedi gelap, sejarah, dokumenter, dan musikal yang sekarang keihatan menjadi genre utama dalam drama modern.1 Adapun pengertian dari genre-genre tersebut adalah:
a)Tragedi
Tragedi dikategorikan dalam drama serius dengan topik yang bermakna kemanusiaan universal sebagai temanya, yang mana tokoh utama atau tokoh melawan penderitaan, mundur dan selalu mati. Secara tradisional, tragedi melibatkan keruntuhan atau kehancuran tokoh yang statusnya tinggi. Tragedi menimbulkan rasa kasihan dan teror terhadap penonton, dan merespon pemecahan dalam apa yang dijelaskan Aristoteles tentang Catarsis, atau ”pembersihan jiwa”. (untuk teori tragedi, lebih lanjut lihat lampiran). Adapun contoh-contoh drama tragedi antara lain dalam drama Trilogi karya dramawan Yunani Sophocles, yakni Oidipus Sang Raja, Oidipus di Kolonus dan Antigone. Begitu pula lakon King Lear karya dramawan Inggris William Shakespeare.
b)Komedi
Komedi merupakan drama humor dengan sebuah tema penting, yang mana tokoh atau watak mempertentangkan diri mereka sendiri dan yang lain dengan akhir yang menimbulkan kelucuan. Komedi dapat menjadi kuat, bergairah, bernuansa remeh dan bergerak, tetapi organisasi pengalaman dramatiknya sama sekali menopang rasa kasihan atau teror dan mendatangkan tawa terbahak-bahak. (untuk teori komedi dan berbagai perbedaannya, lebih lanjut lihat lampiran).
Contoh drama komedi, diantaranya adalah Pinangan karya Anton Chekov.
c)Melodrama
Melodrama merupakan drama serius dengan tema yang sepele. Tokoh protagonis dalam bentuk populer yang menyenangkan dan menghibur ketimbang heroik, bajingan atau penjahat yang tidak kompromi dan sangat tidak menyenangkan. Melodrama menghadirkan pertentangan yang sederhana atau simple dan terbatas antara baik dan buruk ketimbang penggambaran maupun penjelasan yang lengkap terhadap penderitaan dan aspirasi kemanusiaan yang universal. Drama dalam genre ini jarang menopang akhir yang tidak menyenangkan, jarang berhubungan dengan katarsis, dan bertipe akhir dengan kekosongan pikiran, tetapi pertunjukannya suatu kemenangan yang menawan hati dari ”orang yang baik”.
d)Farce
Drama humor --dan ini lebih luas kehumorannya-- dalam tema yang sepele, biasanya seseorang yang sepenuhnya familiar terhadap penonton. Kekeliruan identitas, percintaan yang ditabukan atau cinta gelap, kesalahpahaman yang bertele-tele --ini merupakan cap yang berikan pada farce. Anak kembar satu telur, bercinta dalam WC atau di bawah meja, kejar mengejar di seantero panggung, tukar menukar minuman, tukar menukar pakaian (kadang-kadang laki-laki memakai pakaian wanita atau wanita berpakaian laki-laki), instruksi yang salah dengar, dan beragam adegan membuka pakaian, penemuan, bentuk yang dapat tahan lama secara kekal dan sejak zaman dulu kala.
e)Tragikomedi
Sebuah nama yang menunjukkan, bentuk yang mencoba untuk menjembatani tragedi dan komedi. Ini menegakkan tema serius secara keseluruhan tetapi bermacam-macam pendekatan dari serius hingga humor, dan dengan penyimpulan tanpa katarsis yang berat sekali yang mana penontonnya dibawa untuk menduga-duga. Ini juga dapat dikatakan “tragedi yang berakhir dengan kegembiraan”.

f)Komedi Gelap
Sama dalam tema dan pendekatan terhadap tragikomedi, tetapi dengan akibat pada bagian depan: “Komedi yang berakhir secara tragis”, yang kadang-kadang pengertian yang sangat tepat dari usaha yang sangat modern untuk menggabungkan komedi dan tragedi.
g)Historis
Lebih jauh dilatarbelakangi oleh William Shakespeare, meskipun sedikit drama yang tepat berkategori ini yang ditulis sebelumnya. Drama dalam genre ini menyuguhkan peristiwa sejarah dengan cara yang sangat serius dan terhormat. Drama sejarah Shakespeare terutama dipusatkan pada sejarah Inggris (kira-kira) tahun 1377 hingga 1547, dan secara khusus dengan kehidupan dan perjuangan raja-raja Inggris seperti Richard II, Henry IV, Henry V, Henry VI, Richard III, dan Henry VIII. Drama serius ini didasarkan pada banyak seluk beluk humor, tetapi tidak mencapai katarsis tragedi klasik atau mengesampingkan humor komedi.
(h) Dokumenter
Merupakan sebuah genre yang masih dalam pengembang-an, yang mana banyak penemuan otentik yang secara relatif digunakan sebagai dasar untuk menggambarkan peristiwa sejarah yang baru saja terjadi. Catatan pemeriksaan pengadilan, laporan berita dan gambar, rekaman orang-orang dan pegawai yang di susun sebagai dokumentasi yang membawa kehidupan suatu persoalan khusus dan sudut pandang. Pemeriksaan pengadilan yang terkenal --yakni J. Robert Oppenheimer, John C. Scopes, Adolph Eichmann, gang ”Zoot Suit”, Leopold dan Loeb, skandal Watergate maupun skandal sex Bill Clinton-Lewinsky, skandal Bank Bali, Johny Indo, Marsinah, sebagai contoh-- merupakan sumber material untuk dramatisasi dokumenter.
(i) Musikal
Genre yang dibagi oleh kepercayaan yang luas dalam musik, khususnya dalam nyanyian. Musikal biasanya digabungkan dengan genre lain untuk menciptakan komedi musikal (yakni, komedi dengan nyanyian, semacam Guys and Dolls), dokumentasi musikal (semacam Oh, What A Lovely War!, yang diinspirasikan oleh kejadian Perang Dunia I), atau sejarah musikal. Sebuah latar tragedi untuk disebut opera besar; farce musikal secara umum di sebut opera terang atau operatta.

DRAMATURGI
Ilmu yang Mempelajari Hukum-hukum Drama

Unsur Dramaturgi
Tema: Inti atau pokok dalam suatu drama atau lakon
Alur/Plot: Kerangka penceritaan yang mengubah jalannya cerita
Karakter/Penokohan: Watak suatu tokoh cerita
Latar/Setting: Tempat terjadinya peristiwa
Pada saat sekarang ini timbul keraguan, apakah dramaturgi masih penting dalam dunia seni pertunjukan, khususnya dalam memahami dunia drama. Pertanyaan ini muncul seiring dengan lahirnya kreativitas-kreativitas atau temuan-temuan baru manusia, yang menunjukkan betapa dramaturgi itu harus dipandang dengan cara yang lain. Cara lain tersebut adalah menempatkan dramaturgi itu sejalan dengan perkembangan kreativitas manusia, dan berangkat dari perkembangan yang tumbuh dalam semua kesenian, khususnya dalam seni pertunjukan. Hal ini penting artinya, karena dramaturgi sebagai sebuah disiplin ilmu harus mampu menjawab berbagai persoalan yang muncul bersamaan dengan perubahan paradigma yang terjadi, dan agar dramaturgi benar-benar menjadi disiplin yang multidisipliner.
Pada dekade sembilan puluhan, dramaturgi di Indonesia mulai mendapatkan perhatian khusus. Hal ini berangkat dari situasi perkembangan dunia pendidikan seni yang semakin meningkat. Untuk itu dibutuhkan seorang ahli dalam seni pertunjukan yang kemudian disebut “Dramaturg”, guna membandingkannya dengan ahli seni rupa yang menyeleksi karya-karya terbaik dalam seni rupa, yakni seorang “kurator”.
Dramaturg profesional pertama menurut Kenneth Macgowan dan William Melnitz adalah dramawan dan kritikus drama Jerman, Gotthold Ephraim Lessing. Lessing menulis 104 karya kritik yang dikemudian dikumpulkan dalam sebuah buku, Die Hamburgische Dramaturgie2. Peran seorang dramaturg professional ini sangat penting artinya dalam melakukan berbagai telaah serta menemukan kaidah yang dimiliki oleh sebuah karya seni pertunjukan, dan bukan semata-mata karya drama.
Selain di Indonesia, di beberapa negara Eropa dan Amerika, keberadaan dramaturgi ini juga mendapatkan perhatian khusus. Bahkan, terdapat sebuah situs internet yang memberikan informasi tentang perkembangan mutakhir dalam dramaturgi, yakni www.dramaturgy.net. Siapapun dapat mengakses situs ini untuk mendapatkan informasi, baik berupa buku, jurnal maupun dialog yang berkaitan dengan dramaturgi, termasuk pelayanan untuk mengadakan semacam pelatihan. Sumber-sumber dramaturgi yang tersebar luas itu, di Indonesia masih sangat terbatas penggunaannya. Sumber dalam bentuk buku berbahasa Indonesia dan ditulis pula oleh orang Indonesia, hanya dijumpai pada buku RMA Harymawan yang berjudul Dramaturgi. Beberapa buku yang lain tidak lebih dari sepuluh judul buku yang berbicara tentang dunia drama dan berbagai upaya mempersiapkan pertunjukan teater. Kesemuanya itu perlu direvisi kembali, karena beberapa bagian diantaranya sudah tidak berlaku lagi, atau telah mengalami pergeseran pemahaman yang signifikan.
Ketertarikan terhadap dramaturgi juga terjadi pada dunia ilmu sosial. Seorang sosiolog Amerika, Erving Goffman misalnya, melahirkan pendekatan dramaturgis untuk melakukan penelitian sosial. Pengaruhnya sangat besar, termasuk dalam penelitian dengan pendekatan interaksionis simbolik.3 Disiplin ilmu yang mulai memanfaatkan jasa dramaturgi adalah ilmu komunikasi, psikologi, maupun seni pertunjukan. Sedangkan, dalam politik pun sering kita temui istilah dramatisasi persoalan, dramatisasi konflik, dramatisasi politik, dan sebagainya. Para pengguna dramaturgi pun tidak surut dan habis begitu saja seiring dengan berkembangnya perfilman dan sinetron-sinteron yang memborbardir dunia rumah tangga kita.
Dramaturgi itu sendiri, sebagaimana ditulis oleh RMA Harymawan dalam bukunya Dramaturgi4 adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum dan konvensi drama. Hukum-hukum drama tersebut mencakup Tema, Alur (plot), Karakter (penokohan), dan Latar (setting). Namun demikian, pemahaman dramaturgi itu tidak berhenti pada hukum-hukum dan konvensi yang telah menjadi klasik tersebut. Karena, perkembangan yang cukup besar dari dunia drama itu sendiri, maka tentu sejumlah hukum dan konvensi itu memiliki upaya pula untuk melakukan beberapa ”penyesuaian” yang selaras dengan kehidupan dan jalan pemikiran manusia. Meskipun perkembangan tersebut memiliki beberapa kritik, namun tetap memiliki kemungkinan dalam mengapresiasi kenyataan yang berubah di tengah-tengah masyarakat penggunanya. Kenyataan bahwa dunia drama itu telah berkembang berabad-abad tentulah tak dapat dipungkiri memiliki banyak “produk” yang dapat menjadi model atau bahan untuk dianalisa. Disamping itu, telah banyak pula lahir para dramawan maupun para penulis drama yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan zamannya. Di Indonesia kita mengenal Putu Wijaya, Arifin C. Noor, Iwan Simatupang, Wisran Hadi, Kirjomulyo, Akhudiat, dan masih banyak lagi.
Konsepsi Dramaturgi klasik Aristotelian yang diikuti kalangan neo-klasisisme, yakni kesatuan dramatik yang merupakan suatu cerita yang terjadi di satu tempat dan waktu yang tak lebih dari satu kali dua puluh empat jam, peristiwa-peristiwa dan adegan-adegan secara beruntun, diikat dengan ketat satu sama lain oleh hukum sebab akibat. Kalangan penganut Sturm und Drang atau Storm and Stress (secara harfiah berarti Topan dan Tekanan) melakukan perubahan mendasar. Pemberontakan ini berangkat dari Gefuh ist alles, yakni perasaan adalah segala-galanya, seperti diungkapkan oleh Wolfgang von Goethe pada masa mudanya. Dramawan-dramawan Sturm und Drang cenderung menggambarkan manusia sebagai makhluk yang tingkah lakunya ditentukan oleh semangat yang berkobar-kobar, emosi yang kuat, nafsu yang meluap dan menghanyutkan5 . Maka mudah ditemukan adegan-adegan yang luar biasa, resah, penuh kekerasan, hujatan pedang dan belati, darah dan racun. Itu pulalah sebabnya, gerakan ini kemudian melahirkan gagasan romantik dalam drama dan teater. Plot atau alur cerita bersifat episodik.

Ringkasan
1.Pengertian drama muncul sebagai bagian dari upaya untuk memahami kehidupan. Namun demikian, banyak pengertian-pengertian drama yang saling bertolakbelakang, sehingga terjadi kesimpangsiuran. Upaya yang cermat melalui pengklasifikasian terhadap karya drama tersebut, memungkinkan suatu pengertian yang komprehensif dapat ditemukan.
2.Drama dimengerti mulai dari konteks sebagai salah satu genre sastra hingga ke pertunjukan teater. Sebagai sebuah karya sastra, drama berkaitan erat dengan adanya media lain, seperti teater, radio maupun televisi dan film.
3.Dalam mengembangkan dramaturgi tersebut dibutuhkan pula para dramaturg professional untuk menelaah kaidah-kaidah seni pertunjukan.
4.Dalam play atau drama terdapat genre seperti tragedi, komedi, melodrama, farce, targikomedi, sejarah, dokumenter, dan musikal. Masing-masing genre memiliki kekhususan dalam bentuk dramatiknya.
5.Pemahaman dramaturgi sangat dibutuhkan oleh sutradara dan aktor dalam memasuki wilayah penonton.

Topik Diskusi
1.Sebutkanlah pengertian drama yang relatif lebih realistik pada masa sekarang ini.
2.Sebutkan perbedaan mendasar konsepsi Dramaturgi Aristotelian dan pemberontakan Dramaturgi Wolfgang von Goethe.
3.Sebutkanlah bagaimana cara kerja seorang dramaturg profesional, agar sebuah karya seni pertunjukan dapat mencapai sasarannya secara maksimal.
4.Apakah yang membedakan antara genre drama Tragedi dengan Melodrama, dan Komedi dengan farce, sebutkan contoh dari naskah drama yang mengindikasikan genre ini.
5.Bagaimanakah dramaturgi seharusnya dipahami dan dipergunakan