Jumlah Pengunjung Saat Ini

Minggu, 17 Januari 2010

Bharata Lakon Sumantri Main



















WAYANG ORANG
Bharata Lakon Sumantri Main

Minggu, 17 Januari 2010 | 02:57 WIB

Oleh Lusiana Indriasari dan Ilham khoiri

Orang-orang menerabas hujan deras kota Jakarta, Sabtu malam lalu, untuk nonton pentas Wayang Orang (WO) Bharata di Jalan Kalilio, Senen, Jakarta Pusat.

Di tengah lanskap kehidupan urban Jakarta, kelompok Bharata pentas setiap Sabtu malam.

Wayang wong atau wayang orang yang merupakan produk budaya masyarakat agraris itu tampak tertatih-tatih berada di panggung kehidupan kota besar. Dalam dialog para cantrik, misalnya, muncul simbol gaya hidup kota seperti Facebook dan Hoka-Hoka Bento yang dilafalkan dengan gaya bicara tokoh Sukrosono yang celat atau cadel menjadi oka-oka ento. Muncul pula kosakata di luar vokabulari kultur wayang seperti holland bakery, dugem, sampai nama ”kontemporer” seperti Prabu Avatar.

Tercatat 152 penonton mengisi gedung berkapasitas 240 kursi dengan harga tiket Rp 20.000-Rp 40.000 per orang. Tarian pembuka menyambut penonton di gedung berpenyejuk ruangan itu. Pentas dimulai dengan munculnya barisan raja yang bersiap melamar putri Kerajaan Magada, Dewi Citrawati.

Saat bersamaan, Sumantri, yang ingin mengabdi pada Prabu Arjunasosrobahu di Negara Maespati, harus menyunting Citrawati. Pemuda tampan itu berhasil memboyong sang putri dan harus menghadapi ujian berikutnya: memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan ke Keraton Maespati.

Sumantri minta bantuan Sukrosono, adiknya yang sakti tapi buruk rupa. Sang adik memenuhinya asalkan boleh ikut sang kakak. Namun, saat taman telah dipindahkan, kemunculan Sukrosono yang mirip raksasa cebol itu justru membuat takut para putri. Sang Prabu meminta Sukrosono dibunuh. Cerita semakin menegangkan sampai berakhir pukul 00.30.

Bertahan

Sejak berdiri pada tahun 1972, WO Bharata tekun manggung. Mereka hanya vakum saat bangunan direnovasi pada tahun 1999-2003. Jika dulu mereka pentas saban malam, kini hanya seminggu sekali.

Kelompok ini menyajikan lakon populer, seperti Sumantri Gugur, Gatotkaca Tundung, Sembadra Larung, atau Semar Krida. Pertunjukan dikemas dengan pakem standar pertunjukan wayang orang, yaitu suluk (narasi), tembang, tari, gamelan, perang, dan dialog dalam bahasa Jawa. Tentu, ada juga pertarungan tokoh utama dengan buta (raksasa) Cakil dan goro-goro dengan dagelan punakawan.

Bharata pernah menjadi tontonan yang digandrungi penikmat wayang orang di Ibu Kota. Pada masa jayanya, tahun 1970-an hingga 1980-an, muncul beberapa pemain primadona. Salah satunya Sumarmi alias Mamik yang saat itu berusia 20-an tahun, kini berusia 56 tahun. Mamik dulu sering memerankan tokoh Dewi Sinta, Sembodro, atau Mustokoweni.

Hidup kelompok seni ini didasari pengabdian. Mereka bermain dengan bayaran ala kadarnya. Menurut salah seorang sumber, honor pemain lebih-kurang Rp 40.000 sekali main— jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan honor pemain sinetron yang puluhan juta rupiah. ”Kami main, tanpa berpikir besok mau makan apa,” kata Kenthus (42), pemeran Sumantri malam itu.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, seniman harus bekerja serabutan. Entah sebagai guru tari, usaha persewaan kostum, pembawa acara dalam bahasa Jawa, penari, main sinetron, atau kethroprak di kelompok lain. Mamik, misalnya, kini berbisnis sewa kostum.

Setiap tahun ada subsidi dari Pemprov DKI, sebesar Rp 160 juta pada tahun 2009 dan Rp 200 juta tahun 2008. Namun jumlah itu belum cukup untuk menyokong seluruh operasional kelompok wayang orang. Penghasilan dari tiket Rp 4 juta-an sekali pentas juga tak cukup membiayai semua kebutuhan pentas. ”Kami malah sering nombok,” kata pemimpin Bharata, Marsam Mulyo Atmojo.

Penyegaran

Bagi kalangan tua, sebagian setia menonton sejak tahun 1970-an, Bharata mengisi kerinduan akan tontonan seni tradisi Jawa. Namun, bagaimana dengan kalangan muda hari ini yang lebih akrab dengan Robert Pattinson atau Matt Bellamy ketimbang dengan Buto Cakil? Seni tradisi produk budaya masyarakat agraris ini ditantang untuk menghadapi perubahan budaya.

Dialog panjang berbahasa Jawa halus juga diperpendek dan dicampur sedikit bahasa Jawa ngoko atau bahasa Jawa gaul sehari-hari. Biar lebih nyambung dengan penonton berbahasa non-Jawa, dipasanglah pula teks berjalan. ”Kami ingin mengikuti perkembangan zaman,” kata salah seorang sutradara Bharata, Sentot Erwin.

Pentas Bharata belum didukung teknologi panggung, tata lampu, dan layar-latar yang atraktif. Durasi pentas 3,5 jam-an terkesan bertele-tele untuk penonton urban yang cenderung ingin yang serba ringkas, cepat, dan praktis.

Bharata juga belum masuk industri pariwisata Jakarta akibat manajemen dan pemasaran yang belum tergarap. Padahal, pertunjukan ini potensial dipasarkan sebagai tontonan seni tradisi Indonesia; seperti turis di Italia yang digiring ke gedung opera atau para pelancong di Beijing yang harus mampir nonton Opera Peking.