Jumlah Pengunjung Saat Ini

Minggu, 17 Januari 2010

Rata Penuh
KOMPAS/PRIYOMBODO
Indonesia menampilkan tiga tari yang berjudul (atas ke bawah) Cerita dari Dunia Maya, Bagai Sepotong Seruling Bambu yang Akan Kau Isi dengan Musik, dan Kunti di Teater Salihara, Jakarta.
Seni Kolaborasi Keluarga Syuman Minggu, 17 Januari 2010 | 03:05 WIB Ilham Khoiri

Bagaimana jadinya jika empat anggota keluarga Syuman bergabung untuk membuat pertunjukan tari-teater? Mereka menghasilkan sebuah karya kolaboratif yang padu antara koreografi, musik langsung, dan adegan tari di panggung.

Empat orang itu adalah koreografer senior Farida Oetoyo (ibu), koreografer Yudistira Syuman dan pemusik Aksan Syuman (kakak-beradik, anak Farida dengan sutradara Syumanjaya), serta pemusik Titi Handayani Syuman (istri Aksan, menantu Farida). Tergabung dalam Kreativität Dance-Indonesia, mereka mementaskan tiga karya tari di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu, 16-17 Januari malam.

Tari pertama, Cerita dari Dunia Maya, karya Yudistira Syuman dibawakannya sendiri dengan iringan musik Indra Lesmana. Tari kedua, Bagai Sepotong Seruling Bambu yang Akan Kau Isi dengan Musik, juga karya Yudistira, dibawakan sepasang penari laki-laki dan perempuan. Tari ketiga, Kunti, garapan Farida Oetoyo. Dua tari terakhir diiringi musik langsung hasil rancangan Aksan Syuman dan Titi Handayani Syuman.

Bagaimana wujud kepaduan kolaborasi itu? Sebagaimana terlihat pada geladi resik, Jumat (15/1) malam, tiga karya tadi hadir secara utuh di panggung. Konsep koreografi, gerak tari, serta iringan musik langsung menciptakan satu kesatuan rasa.

Simak saja tari Kunti yang dimainkan oleh 15 penari dalam empat babak. Karya ini mengisahkan tragedi perang Mahabharata ketika Karna harus berhadapan dengan Pandawa. Padahal, sebagaimana diakui Kunti dengan sedih, dua pihak yang bertikai itu sebenarnya bersaudara.

Karna adalah putra Kunti, hasil percintaannya dengan Dewa Matahari. Meski sudah dibukakan rahasia itu, toh Karna bersikukuh mau membunuh Arjuna. Saat perang meletus dan dua bersaudara itu saling bunuh, sang ibu pun menanggung pilu.

Tragedi itu dituangkan dalam koreografi dan musik yang dinamis. Pada adegan pertama, misalnya, ditampilkan bagaimana Kunti dan Dewa Matahari larut dalam gelora bercinta di sebuah kolam dalam kerodong kelambu putih. Laki-laki dan perempuan itu menyatukan tubuh dalam gerak tari yang indah.

Sambil berkecipak dalam air yang bermuncratan, keduanya bergerak meliuk, menyatukan tangan, memutar pinggul, atau tiba-tiba saling mendekap. Sementara itu, musik mengalun lembut dengan jeritan vokal menyentakkan ledakan gairah sekaligus cemas, seperti hendak mencerminkan percintaan yang terlarang.

Saat adegan pertempuran, terdengar tabuhan rancak perkusi, mirip genderang perang. Karna dan Arjuna berhadapan, saling menatap ganas, berlompatan, mengibaskan kain panjang, dan menyabetkan kipas. Karna roboh. Musik melambat dan terdengar seperti mimpi buruk.

Perpaduan serupa juga mengental pada tari Bagai Sepotong Seruling Bambu yang Akan Kau Isi dengan Musik. Karya yang dimainkan penari laki-laki dan perempuan ini menggambarkan jalinan cinta sepasang manusia. Hubungan itu kadang begitu dekat, merenggang, kadang bahagia, tetapi juga kerap diselipi duka.

Suasana romantis itu menyatu dengan denting piano dan pianika yang mendendangkan lagu Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki. Irama lagu itu diulang-ulang dengan tempo turun-naik sehingga terasa ngelanglut. Penonton pun tergiring untuk diam-diam menggumamkan lirik populer: ”Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu…”.

Kolaborasi

Pentas tari produksi Kreativität Dance-Indonesia ke-20 ini bisa disebut sebagai tari-teater. Soalnya, gerak tari tak dihadirkan sendirian, tetapi digabung dengan sedikit dialog, gerak biasa sehari-hari, dan dimasukkan unsur drama. Penari sekaligus menjadi aktor.

Yudistira, koreografer untuk tarian pertama dan kedua, mengaku menciptakan gerak koreografi dari observasi langsung di lapangan dan pengalaman. Itu jelas terlihat pada karya Dunia Maya yang menceritakan kehidupan pengidap skizofrenia.

”Pada tari kedua, saya mendorong munculnya gerakan pribadi dari dua penari. Jadi, karya ini terasa lebih personal,” kata Yudistira.

Dengan konsep tari-teater, pentas juga tak segan menampilkan percakapan panjang atau teks di layar. Tengok saja tari Kunti, yang memasukkan dialog utuh dan panjang antara Kunti dan Karna: sang ibu mencegah anaknya saling membunuh, tetapi sang anak menolak.

Pilihan ini tentu bakal mempermudah penonton untuk menangkap narasi dan pesan. Namun, ada juga risikonya. Pada momen tertentu, suatu tarian tiba-tiba seakan hanya menjadi kepanjangan dari kisah yang begitu verbal dan gamblang. Seakan tak ada misteri dari gerak itu sendiri.

Lepas dari itu, pentas hadir mengesankan karena terjadi kolaborasi antara tari dan musik secara kuat. Pada titik-titik puncak, musik dan tari muncul dalam satu rasa yang kental, saling mengisi dan memperkaya. Agaknya pencapaian ini dipengaruhi hubungan antara koreografer, penari, dan pemusik yang sangat dekat.

Bagaimana mereka bekerja sehingga menghasilkan pentas semacam itu? ”Ibu menunjukkan dulu, bagaimana bentuk koreografinya. Lalu, kami merancang musiknya. Tapi, kadang kami juga membuat musik secara langsung saat melihat tarian,” kata Aksan, yang memang sudah beberapa kali membuat musik untuk ibunya.

Bagi Farida, sang ibu, proses kerja semacam itu sangat membantu. Rasa saling kenal memperlancar proses penggarapan menjadi lebih mudah dan terbuka. ”Kami mudah menyambungkan rasa. Aksan sudah sangat paham selera saya,” kata perempuan yang mendirikan Kreativität Dance-Indonesia tahun 1998 itu.

Keluarga

Empat anggota keluarga Syuman baru kali pertama ini bergabung dalam satu pentas. Bagi mereka, peristiwa ini sangat membahagiakan karena setiap orang bisa ambil bagian sesuai dengan jalur kesenian pilihannya. ”Masing-masing kami punya kreativitas seni berbeda-beda. Kenapa tidak kami pentas bersama?” kata Farida.

Proses kreatif itu juga membuat mereka lebih sering bertemu. Keempat orang yang punya rumah sendiri itu jadi kerap berkumpul di rumah Farida di kawasan Pondok Indah untuk mendiskusikan pementasan. Diskusi itu berlangsung cair.

”Kami bisa saling memberi masukan. Kadang saya mengomentari soal koreografi, kadang ibu mertua bicara soal musik. Semuanya kami bahas bersama,” kata Titi Handayani