Jumlah Pengunjung Saat Ini

Selasa, 19 Januari 2010

seri SENIMAN RENGAT- TENDRA RENGAT

Bayi Ajaib (1982)
Disutradarai oleh Tindra Rengat

Bayi Ajaib menjadi salah satu judul yang dicari –cari oleh banyak penggemar film horor di Indonesia. Banyak dari mereka yang menganggap kalau film ini adalah salah satu film horor terseram yang pernah dibuat oleh Indonesia. Ironisnya, sebagian besar dari mereka, menganugerahkan gelar tersebut, hanya berdasarkan pada memori masa kecil semata, dimana standar film horor pada waktu itu bisa dibilang jauh lebih rendah dibandingkan dengan jaman sekarang. Ditambah lagi dengan sulitnya mencari kopi film itu di pasaran, maka film ini seakan – akan menjadi benda langka yang patut ditonton dan dijadikan koleksi.

Dari segi cerita, rasanya tidak salah kalau menganggap film ini kurang lebih terinspirasi dari film The Omen, yang sempat booming di akhir tahun 70an. Fokus film ini terletak pada sepasang suami istri bernama Kosim (Muni Cader) dan Sumi (Rina Hassim). Kosim yang berambisi menjadi pak lurah, menggunakan segala cara agar ambisinya itu tercapai. Salah satunya dengan membayar anak buahnya supaya bisa menghasut warga agar memilih dia. Saingan Kosim adalah Dorman dan Saleh. Sesuai dengan namanya, Saleh adalah salah satu kandidat yang disenangi warga karena kesalehan dan kearifannya. Sedangkan Dorman adalah warga keturunan Portugis, yang menggunakan arwah nenek moyangnya, untuk menjatuhkan Kosim..

Arwah nenek moyang Dorman pun mulai mengincar istri Kosim, Sumi yang tengah mengandung. Sumi yang hendak pulang ke rumahnya, tiba – tiba terjatuh ke dalam sebuah kuburan, dan bertemu dengan tengkorak hidup yang mengincar janinnya. Janin milik Sumi digerakkannya dari perut ke punggung. Inilah awal mula dari serentetan malapetaka yang akan menghantui mereka berdua.

Setelah tumbuh dewasa, Didi (Rizwi Ibrahim), anak dari Kosim dan Sumi, menjadi anak yang luar biasa nakalnya. Tanda – tanda bahwa Didi bukan anak sembarangan pun semakin terlihat. Ia tidak bisa disunat, dan setiap kali mendengar azan maghrib, ia langsung menutup telinganya dan mengerang kesakitan. Apalagi, setiap ada orang yang mengganggu Didi, pasti akan langsung mengalami kecelakaan.

Melihat hypenya yang cukup besar di kalangan penggemar film di dunia maya, rasanya tidak salah kalau kita mengharapkan film ini bisa menjadi film yang istimewa dan superior daripada film horor sejenis. Sayangnya, film ini tidak seperti apa yang digembar-gemborkan. Pada dasarnya, Bayi Ajaib masih menggunakan pola lama film horor Indonesia yang sering dipakai pada tahun 70-80an. Hal itu diperburuk lagi dengan banyaknya plot hole pada film tersebut. Salah satu yang cukup membingungkan adalah persaingan memperebutkan kepala desa yang terjadi ketika Didi, si bayi ajaib belum lahir, ternyata berlanjut sampai ketika Didi kira – kira berumur 8-9 tahun.

Walaupun hanya berdurasi kurang dari 80 menit, film ini terasa seperti kehabisan tenaga di bagian tengah sampai akhir cerita. Adegan di awal film yang menceritakan tentang asal mula Didi, jauh lebih menghibur karena menampilkan beberapa adegan yang cukup menarik. Namun ketika Didi beranjak dewasa, hampir seluruh adegan terlihat monoton dan membosankan, karena sebagian besar hanya diisi oleh kenakalan – kenakalan Didi terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti biasa, film ini pun diakhiri dengan pertempuran antara Pak Haji dengan arwah Alberto yang berlangsung singkat.

Mungkin ada baiknya anda mengatur terlebih dahulu mindset anda sebelum menonton film ini. Di balik ceritanya yang terlalu biasa untuk jaman sekarang ini, Bayi Ajaib, sama seperti judulnya, menghadirkan beberapa adegan - adegan “ajaib“ yang menghibur. Salah satunya adalah adegan tangan di toilet yang legendaris. Walapun begitu, dibandingkan dengan hype-nya yang cukup besar, maka film ini terlihat begitu mengecewakan. Bayi Ajaib mungkin termasuk film yang seram pada eranya, namun untuk ukuran jaman sekarang, film ini bisa dibilang sudah usang dan dimakan usia